Bangun Rumah Pakai Printer 3D

Setelah ditemukan pada tahun 1983, 3D printer atau pencetak 3 dimensi terus berkembang. Belakangan, mesin pencetak ini bisa digunakan untuk membangun gedung termasuk rumah yang bisa dihuni sehari-hari.  Memang belum diproduksi betulan, tapi masih untuk eksperimen. Seperti yang dilakukan oleh biro arsitek asal Italia Mario Cucinella Architects yang berkolaborasi dengan spesialis percetakan 3 dimensi, WASP.

Rumah ini dibuat dari raw earth, yakni campuran tanah liat yang bisa dicampur dengan bahan tambahan, membuat material bangunan ini jadi menarik dalam warna dan lebih bersih, juga lebih ramah lingkungan.

Proyek prototipe ini disebut TECLA, kependekan dari technology dan clay.  Pembangunannya menggunakan sistem Crane WASP, yang mengombinasikan printer dengan tangan crane besar dan panjang, yang panjang dan tingginya bisa menyesuaikan dengan ukuran bangunan.  Dibangun di Massa Lombarda, Ravenna, Italia, bangunan satu lantai ini disebut-sebut menjadi rumah siap huni pertama di dunia yang secara keseluruhan dibangun oleh multikolabrasi mesin pencetak 3 D.

Rumah TECLA ini berbentuk kubah besar. Bentuk ini diambil, karena dindingnya bisa sekaligus berfungsi sebagai struktur dan atap, sehingga bisa menyederhanakan proses, menghemat material dan waktu pengerjaan. Tidak punya jendela, kubah ini dilengkapi dengan sebuah lubang berlapis kaca di bagian atapnya, berfungsi sebagai pemberi cahaya alami. Satu-satunya bukaan adalah pintu yang dibentuk di salah satu  sisi.

Dua kubah ini merangkum sebuah ruang besar multifungsi dan satu kamar tidur, plus sebentuk kamar mandi.  Rumah ini digadang-gadang akan ramah lingkungan, karena dilengkapi dengan sarana pengolah air buangan dan hujan untuk air penyiram taman, lalu punya sumber energi sendiri berupa sel matahari. Proses pembangunannya pun “bersih”, dan menggunakan material lokal, sehingga minim jejak karbon.

Pembangunan TECLA menghabiskan waktu 200 jam pencetakan dan menggunakan 7000 kode mesin (G-code). Lalu membentuk 350 lapisan setebal 12 mm, dengan menggunakan 150 km ekstruksi dan 60 m3 material alam yang rata-rata mengkonsumsi energi kurang dari 6kW.

Proses pencetakan sudah dimulai pada September 2019. Rencananya, semuanya akan rampung dan siap dipresentasikan pada musim semi tahun ini.


Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *